Aku terlalu lama tidak memikirkan diriku sendiri
Maafkan aku pribadi yang kini menangis
Aku terlalu melupakanmu untuk semua orang
Terlambatkah aku jika saat ini aku ingin menghibur diriku sendiri?
Hmm rasanya jauh sekali aku dari diriku sendiri
Membahagiakannya, tertawa dan larut bersamanya
Sekali lagi maafkan aku, diriku
Terlalu lama membuangmu, melupakanmu
Mungkin belum terlambat jika saat ini, aku memutuskan untuk menyayangi diriku.
Berteman dengan hatiku, tertawa bersama air mataku.
Semoga belum terlambat
Sabtu, 30 Mei 2009
Jumat, 29 Mei 2009
Bangun
Mata ini mulai perlahan membuka
Ditemani jemariku yang perlahan mulai bergerak meraba cahaya
Hatiku seperti ringan
Sepertnya kesedihan itu berdiri membelakangiku kini
Dia yang menjauh atau kah kini aku yang congkak meninggalkan sakit itu?
Dan aku seperti terjaga dari tidurku yang teramat panjang dan sepi
Di tidurku kaki ini diikat mati
Di tidurku hati ini pun hanya bisa mengerang dan berteriak
Kini semua pembelajaranku tentang hidup mulai aku terima
Bahwa dunia berputar dan tak hanya diam
Menemukan banyak hal yang mestinya harus dihadapi dan dterima
Kadang manusia egois, hanya mau menerima apa yg mereka sebut menyenangkan
Dan saat mengenal pahit mereka biasanya berlari, menangis, lalu jatuh dan enggan untuk bangun
Aku pernah terpanggil untuk menjadi demikian
Aku pernah menyamakan tangisanku adalah kematian
Rupanya di tidurku dulu aku termasuk ke dalam orang berhati picik
Namun aku tak sebodoh mereka yang lalu sungguh bersiap untuk mati
Aku masih menyimpan harapan untuk esok yang mungkin dan aku tak tahu adalah matiku
Namun esok yang kutemui sepertinya hidup
Dan semakin hari semakin baik
Semua tawa yang kunikmati hari ini
Semua manis yang kucicipi jam ini
Semua kebahagiaan yang kurasakan menit ini
Semua kesempurnaan yang kudapat detik ini
Sebisa mungkin kupertahankan sampai aku benar-benar mati
Dan kamu, hey keajaiban
Kamu selalu ada di tiap kata dan nafas yang aku lontarkan
Kehadiranmu selalu aku rasakan disini dan memaksaku untuk,
bangun..
Ditemani jemariku yang perlahan mulai bergerak meraba cahaya
Hatiku seperti ringan
Sepertnya kesedihan itu berdiri membelakangiku kini
Dia yang menjauh atau kah kini aku yang congkak meninggalkan sakit itu?
Dan aku seperti terjaga dari tidurku yang teramat panjang dan sepi
Di tidurku kaki ini diikat mati
Di tidurku hati ini pun hanya bisa mengerang dan berteriak
Kini semua pembelajaranku tentang hidup mulai aku terima
Bahwa dunia berputar dan tak hanya diam
Menemukan banyak hal yang mestinya harus dihadapi dan dterima
Kadang manusia egois, hanya mau menerima apa yg mereka sebut menyenangkan
Dan saat mengenal pahit mereka biasanya berlari, menangis, lalu jatuh dan enggan untuk bangun
Aku pernah terpanggil untuk menjadi demikian
Aku pernah menyamakan tangisanku adalah kematian
Rupanya di tidurku dulu aku termasuk ke dalam orang berhati picik
Namun aku tak sebodoh mereka yang lalu sungguh bersiap untuk mati
Aku masih menyimpan harapan untuk esok yang mungkin dan aku tak tahu adalah matiku
Namun esok yang kutemui sepertinya hidup
Dan semakin hari semakin baik
Semua tawa yang kunikmati hari ini
Semua manis yang kucicipi jam ini
Semua kebahagiaan yang kurasakan menit ini
Semua kesempurnaan yang kudapat detik ini
Sebisa mungkin kupertahankan sampai aku benar-benar mati
Dan kamu, hey keajaiban
Kamu selalu ada di tiap kata dan nafas yang aku lontarkan
Kehadiranmu selalu aku rasakan disini dan memaksaku untuk,
bangun..
Aku bicara
Aku berbicara tentang hatiku yang lelah kini.
Yang kuakui selalu tersungkur kepada kepura-puraan
Taukah kalian yang mengaku berhati?
Aku terhanyut bersama kesedihan dan air mataku.
Disaat aku tersenyum dan bersuka cita
Disitulah air mataku mengakar pada keabadian
Aku terpasung pada kesedihan yang aku hidupi
Aku bernyanyi, mengimbangi tangisku yang bergemuruh dalam hati
Aku berbicara pada kalian.
Pada otak-otak kalian yang katanya berakal.
Pada mata kalian yang katanya tak buta.
Lantas pernahkah tau aku?
Yang kuakui selalu tersungkur kepada kepura-puraan
Taukah kalian yang mengaku berhati?
Aku terhanyut bersama kesedihan dan air mataku.
Disaat aku tersenyum dan bersuka cita
Disitulah air mataku mengakar pada keabadian
Aku terpasung pada kesedihan yang aku hidupi
Aku bernyanyi, mengimbangi tangisku yang bergemuruh dalam hati
Aku berbicara pada kalian.
Pada otak-otak kalian yang katanya berakal.
Pada mata kalian yang katanya tak buta.
Lantas pernahkah tau aku?
Hei lelaki (kebencian untukmu Adi Sucipto)
Hei lelaki,
Apa kabar mu?
Apa masih setia menertawakan ketidak warasanku?
Atau terbahak saat aku terkapar?
Hei lelaki,
Dalam keterbatasanku,
Masih mengingat dengan baik semua rasa sakit yang kucicipi
Jiwa ini merintih .. berduka untukmu
Batinku seolah-olah melayang menjelma menjadi kunang-kunang yang kehilangan malamnya
Tapi masih ku tanam dalam hatiku akan dendam itu
Hei lelaki,
Aku ingin menghirupmu sekali lagi
Seperti ketika angin datang memelukku dalam kegelapan
Dan ketika itu pula aku merasakan kesakitan yang indah
Segalanya tak bisa di cegah karena aku telah berada di dalamnya
Kembali ku ucap maaf padamu bila kerinduan yang dalam ini semakin mengabur dalam mataku
Hei lelaki,
Anggap saja kau tak pernah dengar apa yang pernah kuucap
Anggap saja kau tak pernah mengenal seraut wajah penuh duka ini atau sekedar perasaan yang menetap di hatinya
Atau sebuah lelucon jika kau anggap aku sebagai seonggok daging yang kau umpankan pada kesakit hatian
Mungkin lebih tepat jika kau anggap aku boneka yang siap dikuliti kapan saja
Karena kau bukan orang yang tepat untuk mengetahui arti hati dan air mata
Hei lelaki,
Kini aku bangkit dari kematian ku yang panjang
Setelah sekian lama hidup ku dirampas oleh kesakitan yang katanya biasa saja
Aku dan keakuanku membimbing jasad lusuh ku merangkak menjauhi kelabu dan bising emosi
Meninggalkan kubangan air mata dengan ingatan tentangmu yang mengabur
Namun kini aku menikmatinya
Karena aku perempuan yang selalu mampu
Bahkan melebihi apapun yang dimiliki dirimu
Apa kabar mu?
Apa masih setia menertawakan ketidak warasanku?
Atau terbahak saat aku terkapar?
Hei lelaki,
Dalam keterbatasanku,
Masih mengingat dengan baik semua rasa sakit yang kucicipi
Jiwa ini merintih .. berduka untukmu
Batinku seolah-olah melayang menjelma menjadi kunang-kunang yang kehilangan malamnya
Tapi masih ku tanam dalam hatiku akan dendam itu
Hei lelaki,
Aku ingin menghirupmu sekali lagi
Seperti ketika angin datang memelukku dalam kegelapan
Dan ketika itu pula aku merasakan kesakitan yang indah
Segalanya tak bisa di cegah karena aku telah berada di dalamnya
Kembali ku ucap maaf padamu bila kerinduan yang dalam ini semakin mengabur dalam mataku
Hei lelaki,
Anggap saja kau tak pernah dengar apa yang pernah kuucap
Anggap saja kau tak pernah mengenal seraut wajah penuh duka ini atau sekedar perasaan yang menetap di hatinya
Atau sebuah lelucon jika kau anggap aku sebagai seonggok daging yang kau umpankan pada kesakit hatian
Mungkin lebih tepat jika kau anggap aku boneka yang siap dikuliti kapan saja
Karena kau bukan orang yang tepat untuk mengetahui arti hati dan air mata
Hei lelaki,
Kini aku bangkit dari kematian ku yang panjang
Setelah sekian lama hidup ku dirampas oleh kesakitan yang katanya biasa saja
Aku dan keakuanku membimbing jasad lusuh ku merangkak menjauhi kelabu dan bising emosi
Meninggalkan kubangan air mata dengan ingatan tentangmu yang mengabur
Namun kini aku menikmatinya
Karena aku perempuan yang selalu mampu
Bahkan melebihi apapun yang dimiliki dirimu
Minggu, 24 Mei 2009
Teras Kosong dengan Sepucuk Koran dan Secangkir Kopi
Dengan apa kamu selalu merasa menikmati hidupmu?
Dengan tawa yang kau nikmati sendiri?
Atau dengan dentuman musik penghibur?
Apa yang kurang dari yang sudah kamu lewati?
Tanyakan pada seseorang yang menikmati kopi di paginya bertemankan koran dan mengamati datangnya matahari di teras kosong
Banyak yang berjalan di jalan yang rusak
Lalu mereka terjatuh, mengaduh, mengeluh
Saya bertanya, mengapa tetap kau lewati jalan yang rusak?
Yang tadi mengeluh menjawab, saya buta, saya hanya berjalan lurus
Ada yang menyaksikan, seseorang yang menjemur dirinya dengan matahari ditemani gelas kopi yang mengering serta koran yang telah ia lahap di sebuah teras kosong
Saat saya kecil, saya ingat pernah belajar berbicara
Saya mengenal baik huruf-huruf yang katanya bisa menjadi kalimat saat merangkainya
Dan saya bersyukur hingga kini mempunyai daya ingat yang cukup baik karena tidak pernah melupakan 1 huruf pun hingga kini
Tapi saya ingat, di sebuah sore yang hangat saya pernah lupa belajar membuat kalimat
Atau saya bukan lupa?
Ada yang bilang, saya mungkin mempunyai terlalu banyak huruf untuk dirangkai
Ada yang menertawakan saya, seseorang di teras kosong yang sedang merapikan gelas kopi yang sudah mengerak diatas selembar koran yang basah karena tetesan kopi
Pernah lihat hujan?
Itu, air yang turun dari langit, konsep alamiahnya berbicara tentang siklus
Ah basi! Siklus itu cuma kita dapat dari buku dan papan tulis
Pernah kamu melihat siklusnya sepanjang perjalanan umurmu?
Atau yang kamu rasa air menetes dari langit itu karena ada yang berduka?
Ah terlalu banyak pendapat yang kontradiktif
Lebih baik diam saat tak pernah menyaksikan
Karena saya tahu ada yang menyaksikan, teras yang kini telah kosong tanpa selembar koran dan tetesan kopi di sebuah malam kering
Kemana seseorang yang tadi pagi kita tanyai?
Kemana seseorang yang tadi siang menyaksikan kejadian yang lalu lalang?
Kemana seseorang yang tadi sore menertawakan saya?
Kemana seseorang yang tadi malam meninggalkan terasnya?
Apa dia tidur setelah kelelahan mengamati hari?
Dia tidak tidur, Dia tidak pernah lelah, Dia masih selalu menyaksikan pemandangan hari-Nya
dan Dia tidak pernah membuat teras itu menjadi sesungguhnya kosong
Dengan tawa yang kau nikmati sendiri?
Atau dengan dentuman musik penghibur?
Apa yang kurang dari yang sudah kamu lewati?
Tanyakan pada seseorang yang menikmati kopi di paginya bertemankan koran dan mengamati datangnya matahari di teras kosong
Banyak yang berjalan di jalan yang rusak
Lalu mereka terjatuh, mengaduh, mengeluh
Saya bertanya, mengapa tetap kau lewati jalan yang rusak?
Yang tadi mengeluh menjawab, saya buta, saya hanya berjalan lurus
Ada yang menyaksikan, seseorang yang menjemur dirinya dengan matahari ditemani gelas kopi yang mengering serta koran yang telah ia lahap di sebuah teras kosong
Saat saya kecil, saya ingat pernah belajar berbicara
Saya mengenal baik huruf-huruf yang katanya bisa menjadi kalimat saat merangkainya
Dan saya bersyukur hingga kini mempunyai daya ingat yang cukup baik karena tidak pernah melupakan 1 huruf pun hingga kini
Tapi saya ingat, di sebuah sore yang hangat saya pernah lupa belajar membuat kalimat
Atau saya bukan lupa?
Ada yang bilang, saya mungkin mempunyai terlalu banyak huruf untuk dirangkai
Ada yang menertawakan saya, seseorang di teras kosong yang sedang merapikan gelas kopi yang sudah mengerak diatas selembar koran yang basah karena tetesan kopi
Pernah lihat hujan?
Itu, air yang turun dari langit, konsep alamiahnya berbicara tentang siklus
Ah basi! Siklus itu cuma kita dapat dari buku dan papan tulis
Pernah kamu melihat siklusnya sepanjang perjalanan umurmu?
Atau yang kamu rasa air menetes dari langit itu karena ada yang berduka?
Ah terlalu banyak pendapat yang kontradiktif
Lebih baik diam saat tak pernah menyaksikan
Karena saya tahu ada yang menyaksikan, teras yang kini telah kosong tanpa selembar koran dan tetesan kopi di sebuah malam kering
Kemana seseorang yang tadi pagi kita tanyai?
Kemana seseorang yang tadi siang menyaksikan kejadian yang lalu lalang?
Kemana seseorang yang tadi sore menertawakan saya?
Kemana seseorang yang tadi malam meninggalkan terasnya?
Apa dia tidur setelah kelelahan mengamati hari?
Dia tidak tidur, Dia tidak pernah lelah, Dia masih selalu menyaksikan pemandangan hari-Nya
dan Dia tidak pernah membuat teras itu menjadi sesungguhnya kosong
Sabtu, 23 Mei 2009
Kebencian Untukmu, Hujan
Ada nyawa yang pernah hilang saat hujan
Ada yang pernah menyakiti keluarganya saat hujan
Ada kenyataan pahit yang datang saat hujan
Ada yang pernah meregang nyawanya saat hujan
Ada yang pernah kesakitan di sebuah kamar dingin saat hujan
Ada yang pernah pergi saat hujan
Ada yang pernah berjanji saat hujan
Ada yang pernah membuka lagi hatinya saat hujan
Ada yang pernah mencoba percaya saat hujan
dan malam ini,
Ada yang menangis diantara hujan
Engkau begitu menciptakan banyak luka untukku, hujan.
Bisakah aku memaafkan-mu suatu hari nanti?
Ada yang pernah menyakiti keluarganya saat hujan
Ada kenyataan pahit yang datang saat hujan
Ada yang pernah meregang nyawanya saat hujan
Ada yang pernah kesakitan di sebuah kamar dingin saat hujan
Ada yang pernah pergi saat hujan
Ada yang pernah berjanji saat hujan
Ada yang pernah membuka lagi hatinya saat hujan
Ada yang pernah mencoba percaya saat hujan
dan malam ini,
Ada yang menangis diantara hujan
Engkau begitu menciptakan banyak luka untukku, hujan.
Bisakah aku memaafkan-mu suatu hari nanti?
Andai Saja Aku Bisa Marah
Andai saja aku bisa menjadi orang yang selalu memikirkan diriku sendiri,
akankah aku sakit?
Andai saja aku bisa menjadi orang yang selalu mengutamakan harga diriku,
akankah aku menangis?
Andai saja aku bisa menjadi orang yang tak punya hati,
akankah aku selalu memaafkan?
Andai saja aku bisa marah,
akankah aku terluka lagi?
aku menunggu jawaban dari mu, waktu ..
akankah aku sakit?
Andai saja aku bisa menjadi orang yang selalu mengutamakan harga diriku,
akankah aku menangis?
Andai saja aku bisa menjadi orang yang tak punya hati,
akankah aku selalu memaafkan?
Andai saja aku bisa marah,
akankah aku terluka lagi?
aku menunggu jawaban dari mu, waktu ..
Mudah Saja by Sheila On 7
Tuhan
Aku berjalan menyusuri malam
Setelah patah hatiku
Aku bedoa semoga saja
Ini terbaik untuknya
Dia bilang
Kau harus bisa seperti aku
Yang sudah biarlah sudah
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja.. Cintamu seperti cintaku
Selang waktu berjalan kau kembali datang
Tanyakan keadaanku
Ku bilang
Kau tak berhak tanyakan hidupku
Membuatku semakin terluka
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Coba saja lukamu seperti lukaku
Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja cintamu seperti cintaku
Mudah saja...
Aku berjalan menyusuri malam
Setelah patah hatiku
Aku bedoa semoga saja
Ini terbaik untuknya
Dia bilang
Kau harus bisa seperti aku
Yang sudah biarlah sudah
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja.. Cintamu seperti cintaku
Selang waktu berjalan kau kembali datang
Tanyakan keadaanku
Ku bilang
Kau tak berhak tanyakan hidupku
Membuatku semakin terluka
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Coba saja lukamu seperti lukaku
Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja cintamu seperti cintaku
Mudah saja...
Langganan:
Postingan (Atom)